bersuci

Loading...

Kamis, 13 November 2014

Kebersihan Sebagian Dari Iman

Kebersihan Sebagian dari Iman, Bukan Hadits Nabi www.inilah.comon 7 ilustrasi-inilahcom Oleh: mozaik - Jumat, 7 November 2014 | 11:10 WIB Share on facebookShare on twitterShare on emailShare on googleMore Sharing Services INILAHCOM, Jakarta—Ada yang bertanya soal kalimat, “Kebersihan Sebagian dari Iman”, yang seringkali disebut sebagai hadits Nabi SAW. Ustadz Muhammad Shiddiq Al-Jawi menyatakan bahwa hal itu bukanlah hadits Nabi. Ungkapan ”Kebersihan Sebagian Dari Iman” (Arab : an-nazhaafatu minal iimaan) sebenarnya bukanlah hadits Nabi SAW, namun hanya sekedar peribahasa atau kata mutiara yang baik atau Islami. Ringkasnya, jika ditinjau apakah ungkapan itu hadits Nabi SAW atau bukan, jawabnya bukan hadits Nabi SAW. Sebab tidak terdapat hadits berbunyi demikian dalam berbagai kitab hadits yang ada, sejauh pengetahuan kami. Namun kalau ditinjau apakah ungkapan itu Islami atau tidak, jawabnya Islami. Sebab ungkapan itu didukung oleh sebuah hadits hasan seperti yang akan kami sebutkan. Memang, ada hadits sahih dari Nabi SAW yang mirip dengan kalimat ”Kebersihan Sebagian Dari Iman”. Hadits itu adalah sabda Nabi SAW yang berbunyi,”Ath-thahuuru syatrul iimaan…” (HR. Ahmad, Muslim, dan Tirmidzi) (Lihat Imam As-Suyuthi, Al-Jami’ Ash-Shaghir, II/57; Imam Al-Qazwini, Bingkisan Seberkas 77 Cabang Iman (Terj. Mukhtashar Syu’abul Iman Li Al-Imam Baihaqi), hal. 66-67). Namun arti hadits Nabi tersebut adalah,”Bersuci [thaharah] itu setengah daripada iman….” Kata ath-thahuuru dalam hadits itu artinya tiada lain adalah bersuci (ath-thaharah), bukan kebersihan (an-nazhafah), meskipun patut diketahui ath-thaharah secara makna bahasa artinya memang kebersihan [an-nazhaafah] (Taqiyuddin al-Husaini, Kifayatul Akhyar, I/6). Tetapi dalam ushul fiqih terdapat kaidah bahwa arti asal suatu kata dalam al-Qur`an dan Al-Hadits adalah arti terminologis (makna syar’i), bukan arti etimologis (makna bahasa). Imam Taqiyuddin An-Nabhani dalam kitab Asy-Syakhshiyyah Al-Islamiyah Juz III hal. 174 menyebutkan kaidah ushul fiqih yang berbunyi : Al-Ashlu fi dalalah an-nushush asy-syar’iyah huwa al-ma’na asy-syar’iy--“Arti asal nash-nash syariah [Al-Qur`an dan As-Sunnah] adalah makna syar’i.” Karenanya hadis Nabi SAW di atas hendaknya diartikan “Bersuci itu setengah daripada iman”, dan bukannya ”Kebersihan itu sebagian daripada iman.” Suci dan bersih itu berbeda. Suci (thahir) adalah keadaan tanpa najis dan hadas, baik hadas besar maupun hadas kecil, pada badan, pakaian, tempat, air, dan sebagainya. Bersuci (thaharah) adalah aktivitas seseorang untuk mencapai kondisi suci itu, misalnya berwudhu, tayammum, atau mandi junub. (Taqiyuddin al-Husaini, Kifayatul Akhyar, I/6). Sedang bersih (nazhif) adalah lawan dari kotor yaitu keadaan sesuatu tanpa kotoran. Sesuatu yang kotor bisa saja suci, meski ini tentu kurang afdhol. Sajadah yang lama tidak dicuci adalah kotor. Tapi tetap disebut suci selama kotoran yang menempel hanya sekedar debu atau daki, bukan najis seperti kotoran binatang. Demikian pula sesuatu yang bersih juga tidak otomatis suci. Seorang muslim yang berhadats besar (misal karena haid atau berhubungan seksual) bisa saja tubuhnya bersih sekali karena mandi dengan sabun anti kuman atau desinfektan. Tapi selama dia tidak meniatkan mandi junub, dia tetaplah tidak suci alias masih berhadas besar. Walhasil, suci atau bersuci berkaitan dengan keyakinan seorang muslim, yang sifatnya tidak universal. Maksudnya hanya menjadi pandangan khas di kalangan umat Islam. Sedang bersih atau kebersihan berkaitan dengan fakta empiris yang universal, yaitu diakui baik oleh umat Islam maupun umat non Islam. Kembali ke masalah hadits di atas. Kesimpulannya, yang ada adalah hadits Nabi SAW yang berarti ”Bersuci Adalah Sebagian Dari Iman”, dan bukan ” Kebersihan Sebagian Dari Iman.” Namun demikian, kalimat ” Kebersihan Sebagian Dari Iman” merupakan ungkapan yang baik (Islami), karena didukung sebuah hadits yang menurut Imam Suyuthi berstatus hasan, yakni sabda Nabi SAW : ”Sesungguhnya Allah Ta’ala adalah baik dan mencintai kebaikan, bersih dan mencintai kebersihan, mulia dan mencintai kemuliaan, dermawan dan mencintai kedermawanan. Maka bersihkanlah halaman rumahmu dan janganlah kamu menyerupai orang Yahudi.” (HR. Tirmidzi) (Lihat Imam As-Suyuthi, Al-Jami’ Ash-Shaghir, I/70; Muhammad Faiz Almath, 1100 Hadits Terpilih, [Jakarta : GIP], cetakan keenam, 1993, hal. 311). Hadits di atas menunjukkan bahwa kebersihan (an-nazhafah) merupakan sesuatu yang dicintai Allah SWT. Maka dari itu ungkapan ” Kebersihan Sebagian Dari Iman” kami katakan sebagai ungkapan yang baik atau Islami karena ada dasarnya dalam Islam yaitu hadits riwayat Tirmidzi di atas. Ungkapan itu dapat diberi arti, bahwa menjaga kebersihan segala sesuatu merupakan bukti atau buah keimanan seorang muslim, karena dia telah beriman bahwa Allah SWT adalah Dzat Yang Mahabersih (nazhiif). Wallahu a’lam. [ ]

Sabtu, 23 November 2013


اَلْعَدَوَاتُ الْمَدْ رَس}يَّةِ


Peralatan Sekolah
Kelas 2
Bab 7 Semester 2

Setelah mempelajari Bab ini siswa diharapkan mampu
1. Menyebutkan enam buah isim (kata benda yang berhubungan dengan peralatan sekolah.
2. Menyebutkan ciri-ciri isim muzakkar dan muannas
3. Menggunakan kata tunjuk dengan benar sesuai jenis benda yang ditunjuk.


Setelah salam dan melakukan pembukaan pelajaran guru mengajak siswa untuk bernyanyi. Tujuan dari kegiatan ini adalah agar siswa hafal kosa kata yang akan di ajarkan pada bab ini. Adapun lagu yang dipakai dalam penyampaian materi ini adalah sebuah lagu yang dulu saya pelajari waktu kegiatan pramuka di Madrasah Aliyah. Sebagian syair lagunya adalah sebagai berikut

Tanjung perak tepi laut
Siapa suka boleh ikut
dll

Adapun syair lagu yang akan kita gunakan untuk menyampaikan materi ini dengan lagu di atas adalah sebagai berikut

Papan tulis سبورة sabburatun
tempat sampah  مزبلة mazbalatun
penggaris   مسطرة mistaratun
buku tulis كراسة kurrasatun
sekolahan مدرسة madrasatun

Setelah kita nyanyikan lagu ini biasanya anak akan bertanya, benderanya kok nggak disebutkan???!
baru kita teriakkan bareng-bareng... Gitu ceritanya...

Setelah beberapa saat kita bisa lanjutkan pembelajaran dengan permainan tebak kata. siapa yang tepat dan cepat menjawab soal dia yang akan maju ke arena lomba dan akan beradu dengan teman berikutnya yang tepat dan cepat menjawab pertanyaan guru. Setelah kita dapatkan tiga atau empat siswa perlombaan kita mulai. Seperti biasa siswa yang terlebih dahulu menjawab soal maju satu atau dua kota ubin hingga mencapai finish di depan kelas. Lakukan kegiatan ini hingga semua siswa berkesempatan mengikuti lomba. Insya Allah enam kosa kata baru yang menjadi indikator ketercapaian belajar akan akan dapat diraih.

Pada pertemuan berikutnya pembelajaran kita lanjutkan dengan membaca percakapan yang ada di halaman 39. Guru membaca percakapan dan para siswa mengikuti bacaan guru. Setelah beberapa kali guru memberi contoh, mintalah satu atau dua orang murid untuk membaca yang akan ditirukan oleh teman-teman yang lain.
Langkah berikutnya adalah guru menerangkan tarkib atau pola kalimat yang ada pada halaman 40. Dengan dasar pengetahuan kosa kata-yang telah diperoleh siswa pada semester satu, jelaskan pada anak tentang perbedaan fifik antara isim muzakkar dengan isim muannas. Setelah anak memehami barurah guru jelaskan bagaimana penggunaan isim isyarah haza dan hazihi (هذا و هذه)
Setelah guru jelaskan dua hal di atas (ciri isim muzakkar dan muannas serta penggunaan kata tunjuknya) berikan beberapa soal. Tuliskan sebuah kata jenis muzakkar dan mintalah para siswa untuk melengkapi dengan kata tunjuk yang benar. Kemudian tulisah di papan tulis sebuah isim jenis muannas dan mintalah para siswa untuk melengkapi dengan kata tunjuk yang benar.
Untu memantapkan pemahaman siswa berikan dua soal yang berbeda. Kali ini berikan dua buah isim isyarah haza dan hazihi dan mintalah pada anak-anak untuk maju dan melengkapi kalimat yang anda buat dengan isim yang cocok. Ketika semua langkah di atas telah antum lalui maka siswa akan dengan mudah mengerjakan latuhan pada halaman 41, 42 43 dan 44.
مع النجاح

Rabu, 13 November 2013

HADITS TENTANG MENUNTUT ILMU


Tuntutlah Ilmu Sampai ke Negeri China

Setiap orang pasti telah mengetahui perkataan ini.
اُطْلُبُوْا العِلْمَ وَلَوْ في الصِّينِ
“Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri China.”
Inilah yang dianggap oleh sebagian orang sebagai hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun perlu diingat bahwa setiap buah yang akan dipanen tidak semua bisa dimakan, ada yang sudah matang dan keadaannya baik, namun ada pula buah yang dalam keadaan busuk.
Begitu pula halnya dengan hadits. Tidak semua perkataan yang disebut hadits bisa kita katakan bahwa itu adalah perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Boleh jadi yang meriwayatkan hadits tersebut ada yang lemah hafalannya, sering keliru, bahkan mungkin sering berdusta sehingga membuat hadits tersebut tertolak atau tidak bisa digunakan. Itulah yang akan kita kaji pada kesempatan kali ini yaitu meneliti keabsahan hadits di atas sebagaimana penjelasan para ulama pakar hadits. Penjelasan yang akan kami nukil pada posting kali ini adalah penjelasan dari ulama besar Saudi Arabia dan termasuk pakar hadits, yaitu Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah. Beliau rahimahullah pernah menjabat sebagai Ketua Komisi Tetap Urusan Riset dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi. Semoga Allah memberi kemudahan dalam hal ini.
Penjelasan Derajat Hadits
Mayoritas ulama pakar hadits menilai bahwa hadits ini adalah hadits dho’if (lemah) dilihat dari banyak jalan.
Syaikh Isma’il bin Muhammad Al ‘Ajlawaniy rahimahullah telah membahas panjang lebar mengenai derajat hadits ini dalam kitabnya ‘Mengungkap kesamaran dan menghilangkan kerancuan terhadap hadits-hadits yang sudah terkenal dan dikatakan sebagai perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam‘ pada index huruf hamzah dan tho’. Dalam kitab beliau tersebut, beliau mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi, Al Khotib Al Baghdadi, Ibnu ‘Abdil Barr, Ad Dailamiy dan selainnya, dari Anas radhiyallahu ‘anhu. Lalu beliau menegaskan lemahnya (dho’ifnya) riwayat ini. Dinukil pula dari Ibnu Hibban –pemilik kitab Shohih-, beliau menyebutkan tentang batilnya hadits ini. Sebagaimana pula hal ini dinukil dari Ibnul Jauziy, beliau memasukkan hadits ini dalam Mawdhu’at (kumpulan hadits palsu).
Dinukil dari Al Mizziy bahwa hadits ini memiliki banyak jalan, sehingga bisa naik ke derajat hasan.
Adz Dzahabiy mengumpulkan riwayat hadits ini dari banyak jalan. Beliau mengatakan bahwa sebagian riwayat hadits ini ada yang lemah (wahiyah) dan sebagian lagi dinilai baik (sholih).
Dengan demikian semakin jelaslah bagi para penuntut ilmu mengenai status hadits ini. Mayoritas ulama menilai hadits ini sebagai hadits dho’if (lemah). Ibnu Hibban menilai hadits ini adalah hadits yang bathil. Sedangkan Ibnul Jauziy menilai bahwa hadits ini adalah hadits maudhu’ (palsu).
Adapun perkataan Al Mizziy yang mengatakan bahwa hadits ini bisa diangkat hingga derajat hasan karena dilihat dari banyak jalan, pendapat ini tidaklah bagus (kurang tepat). Alasannya, karena banyak jalur dari hadits ini dipenuhi oleh orang-orang pendusta, yang dituduh dusta, suka memalsukan hadits dan semacamnya. Sehingga hadits ini tidak mungkin bisa terangkat sampai derajat hasan.
Adapun Al Hafizh Adz Dzahabiy rahimahullah mengatakan bahwa sebagian jalan dari hadits ini ada yang sholih (dinilai baik). Maka kita terlebih dahulu melacak jalur yang dikatakan sholih ini sampai jelas status dari periwayat-periwayat dalam hadits ini. Namun dalam kasus semacam ini, penilaian negatif terhadap hadits ini (jarh) lebih didahulukan daripada penilaian positif (ta’dil) dan penilaian dho’if terhadap hadits lebih harus didahulukan daripada penilaian shohih sampai ada kejelasan shohihnya hadits ini dari sisi sanadnya. Dan syarat hadits dikatakan shohih adalah semua periwayat dalam hadits tersebut adalah adil (baik agamanya), dhobith (kuat hafalannya), sanadnya bersambung, tidak menyelisihi riwayat yang lebih kuat, dan tidak ada illah (cacat). Inilah syarat-syarat yang dijelaskan oleh para ulama dalam kitab-kitab Mustholah Hadits (memahami ilmu hadits).
Seandainya Hadits Ini Shohih
Seandainya hadits ini shohih, maka ini tidak menunjukkan kemuliaan negeri China dan juga tidak menunjukkan kemuliaan masyarakat China. Karena maksud dari ‘Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri China’ –seandainya hadits ini shohih- adalah cuma sekedar motivasi untuk menuntut ilmu agama walaupun sangat jauh tempatnya. Karena menuntut ilmu agama sangat urgen sekali. Kebaikan di dunia dan akhirat bisa diperoleh dengan mengilmui agama ini dan mengamalkannya.
Dan tidak dimaksudkan sama sekali dalam hadits ini mengenai keutamaan negeri China. Namun, karena negeri China adalah negeri yang sangat jauh sekali dari negeri Arab sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memisalkan dengan negeri tersebut. Tetapi perlu diingat sekali lagi, ini jika hadits tadi adalah hadits yang shohih. Penjelasan ini kami rasa sudah sangat jelas dan gamblang bagi yang betul-betul merenungkannya.
Wallahu waliyyut taufiq.
Sumber: Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 22/233-234, Asy Syamilah
Keterangan:
  1. Hadits shohih adalah hadist yang memenuhi syarat: semua periwayat dalam hadits tersebut adalah adil (baik agamanya), dhobith (kuat hafalannya), sanadnya bersambung, tidak menyelisihi riwayat yang lebih kuat, dan tidak ada illah (cacat).
  2. Hadits hasan adalah hadits yang memenuhi syarat shohih di atas, namun ada kekurangan dari sisi dhobith (kuatnya hafalan).
  3. Hadits dho’if (lemah) adalah hadits yang tidak memenuhi syarat shohih seperti sanadnya terputus, menyelisihi riwayat yang lebih kuat (lebih shohih) dan memiliki illah (cacat).

Selasa, 12 November 2013

KOSA KATA


Kosa Kata (Arab)


Terjemahan (Indonesia)

 Description: http://www.internetpolyglot.com/images/image.gif
Description: Play
آخر

Description: Play
lainnya
 Description: http://www.internetpolyglot.com/images/image.gif
Description: Play
بسيط

Description: Play
sederhana
 Description: http://www.internetpolyglot.com/images/image.gif
Description: Play
عادي

Description: Play
biasa
 Description: http://www.internetpolyglot.com/images/image.gif
Description: Play
سيئ

Description: Play
buruk
 Description: http://www.internetpolyglot.com/images/image.gif
Description: Play
جديد

Description: Play
baru
 Description: http://www.internetpolyglot.com/images/image.gif
Description: Play
حرّ

Description: Play
bebas
 Description: http://www.internetpolyglot.com/images/image.gif
Description: Play
مثالي

Description: Play
sempurna
 Description: http://www.internetpolyglot.com/images/image.gif
Description: Play
قادم

Description: Play
berikutnya
 Description: http://www.internetpolyglot.com/images/image.gif
Description: Play
لوحده

Description: Play
sendirian
 Description: http://www.internetpolyglot.com/images/image.gif
Description: Play
فظيع

Description: Play
mengerikan
 Description: http://www.internetpolyglot.com/images/image.gif
Description: Play
كامل

Description: Play
penuh
 Description: http://www.internetpolyglot.com/images/image.gif
Description: Play
هائل

Description: Play
besar sekali
 Description: http://www.internetpolyglot.com/images/image.gif
Description: Play
أخيراً

Description: Play
terakhir
 Description: http://www.internetpolyglot.com/images/image.gif
Description: Play
آخر

Description: Play
terbaru
 Description: http://www.internetpolyglot.com/images/image.gif
Description: Play
عادي

Description: Play
biasa
 Description: http://www.internetpolyglot.com/images/image.gif
Description: Play
خاصّ

Description: Play
khusus
 Description: http://www.internetpolyglot.com/images/image.gif
Description: Play
صاخب

Description: Play
bising
 Description: http://www.internetpolyglot.com/images/image.gif
Description: Play
صامت

Description: Play
sunyi
 Description: http://www.internetpolyglot.com/images/image.gif
Description: Play
نفسه

Description: Play
sama
 Description: http://www.internetpolyglot.com/images/image.gif
Description: Play
كُلّ

Description: Play
seluruh
 Description: http://www.internetpolyglot.com/images/image.gif
Description: Play
كامل

Description: Play
lengkap
 Description: http://www.internetpolyglot.com/images/image.gif
Description: Play
عديم الفائدة

Description: Play
tidak berguna
 Description: http://www.internetpolyglot.com/images/image.gif
Description: Play
مفيد

Description: Play
berguna
 Description: http://www.internetpolyglot.com/images/image.gif
Description: Play
فارغ

Description: Play
kosong